Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine.
Sambil bertepuk tangan, ia berteriak,
“Not a play! Not a play!”
Nadine bengong. “Not a play?”
“Yes… Not a play… Bukan main.”
Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah.
“Bukan main itu bukan not a play, Djan.”
“Your granny! (Mbahmu!). Humanly I have check my dictionary kok. (Orang saya sudah periksa di kamus kok)”
Lalu Wakidjan berpaling ke Nadine. “Lady, let’s corner (Mojok yuk). But don’t
think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan). I just want a
meal together.”
“Ngaco kamu, Djan,” Tukidjo tambah gemes.
“Don’t be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch?”
Nadine cuman senyum kecil. “I would love to, but …”
“Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin
kamu jadi nggak enak)”, sambut Wakidjan ramah, “Different river, maybe
(Lain kali barangkali). I will not be various kok (Saya nggak akan
macam-macam kok)”
Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap
Tukidjo dengan sebal. “Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong
to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?”
Tukidjo
cari kalimat penutup. “Just itchy Djan, because you speak English as
delicious as your belly button.” (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong
Inggris seenak udelmu dewe).
Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, “His name is also effort.” (Namanya juga usaha).
February 11, 2015
January 9, 2015
WASPADA TAHUN 2015!!!!
INGAT!!!
Mama Laurent (alm) pernah mengatakan bahwa dia tidak mampu lagi meramal setelah tahun 2013, penglihatan tertutup tabir hitam kelam gelap dan kotor. Tahun 2015 penuh duka dan bencana. Air mata di mana-mana. Mata air kering, tak mengalir. Boleh percaya boleh tidak, tapi ramalannya jarang meleset. Kita perlu waspada. Mama Laurent juga mengatakan bahwa akan ada penggantinya yang bisa membersihkan tabir hitam, noda hitam dan kotor itu pada tahun ini.
Siapakah dia...?
Dia adalah Mama Lemon, cairan pembersih yang ampuh menghilangkan noda noda hitam di piring gelas dan panci...
Caranya?
Ya lu baca aja petunjuknya, males banget sih jadi orang!?
Dia adalah Mama Lemon, cairan pembersih yang ampuh menghilangkan noda noda hitam di piring gelas dan panci...
Caranya?
Ya lu baca aja petunjuknya, males banget sih jadi orang!?
December 9, 2014
Missing You

If I hadn't met you,
I wouldn't like you.
If I hadn't liked you,
I wouldn't love you.
If I wouldn't love you,
I wouldn't miss you.
But I did, I do and I will.
I've said it once, I've said it twice, I've said it a thousand fucking times. That I'm okay, that I'm fine, that it's all just in my mind. But this has got the best of me and I can't seem to sleep. I want to scream my lungs out and let the world know that I miss you. But it wouldn't change anything so I'll just keep on pretending I don't. Because I know that you're my could've been, should've been, but never was, and never will be...
November 20, 2014
Hebatnya Huruf T
Tatkala Temperatur Terik Terbakar Terus,
Tukang Tempe Tetap Tabah, "Tempe-tempe", Teriaknya.
Ternyata Teriakan Tukang Tempe Tadi Terdengar Tukang Tahu,
Terpaksa Teriakannya Tambah Tinggi, "Tahu…Tahu...Tahu…!"
"Tempenya Terbaik, Tempenya Terenak, Tempenya Terkenal!!", Timpal Tukang Tempe.
Tukang Tahu Tidak Terima, "Tempenya Tengik, Tempenya Tawar, Tempenya Terjelek….!"
Tukang Tempe Tertegun, Terhenyak, "Teplakkk!!" Tamparannya Tepat Terkena Tukang Tahu.
Tapi Tukang Tahu Tidak Terkalahkan, Tendangannya Tepat Terkena Tulang Tungkai Tukang Tempe.
Tukang Tempe Terjengkang Tumbang Tapi Terus Tegak, Tatapannya Terhunus Tajam Terhadap Tukang Tahu.
Tetapi, Tukang Tahu Tidak Terpengaruh Tatapan Tajam Tukang Tempe Tersebut.
"Tidak Takut!!" Tantang Tukang Tahu.
Tidak Ternyana Tangan Tukang Tempe Terkepal, Tinjunya Terarah, Terus Tonjokkannya Tepat Terkena Tukang Tahu, Tak Terelakkan.
Tujuh Tempat Terkena Tinjunya, Tonjokan Terakhir Tepat Terkena Telak.
Tukang Tahu Terjerembab.
"Tolong.. Tolong.. Tolong..!", Teriaknya Terdengar Tinggi.
Tanpa Tunda Tempo, Tukang Tempe Teruskan Teriakannya, "Tempe..Tempe..Tempe..!"
Tapi Terus Terdengar Tembakan.
Tukang Tempepun Tertembak Tentara Teroris. Teretetetetetetetetetetetetetetetetet!!!
Tukang Tempe Terkapar Tertembak.
Tukang Tahupun Tertawa Terbahakbahak..
Teletai Teritanya..Tapek Tauuuuukkkkkkkkk!!!
October 31, 2014
Ntah
Gak tau mau ngepos apa.
Segini dulu.
Bye.
:D
Segini dulu.
Bye.
:D
September 7, 2014
Father's Love
Once there was a child who was so tired of taking care of his father who is very weak because of his incurable disease. So he carried his father on his back to the most corner of
the forest to mislead or misguide him.
On their way to the forest, he was wondering why does his father cut every branch of the
trees that they pass by.
So he asked his father, "Father, what are you doing? Why are you cutting those
branches?"
And so his father replied, "Son, I cut those branches for you to have signs, so you will easily find your way out here, your way home."
August 25, 2014
Don't Judge By Its Cover
Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, “Guru, saya
tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat
sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat
diperlukan, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan
lain?”
Sang guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari
salah satu jarinya lalu berkata, “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi
terlebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke
pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu.
“Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”
“Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu
kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada
yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping
emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja pemuda itu tak
berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan
Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu
keping perak.”
Zun-Nun sambil tetap tersenyum arif berkata, “Sekarang
pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada
pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja
bagaimana ia memberikan penilaian.”
Pemuda itu bergegas pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali
kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru,
ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini.
Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin
ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di
pasar.”
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah
jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari
pakaiannya. Hanya ‘para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar’ yang menilai
demikian. Namun tidak bagi ‘pedagang emas’.”
Subscribe to:
Posts (Atom)