May 12, 2026

Tomorrow

Gue mau berbagi pengalaman yg mungkin akan gue ingat seumur hidup gue. Nih, kenalin gue punya kucing namanya Tomorrow aka Tumero Uno. Sering gue panggil Tumer atau juga Tomor (baca: Tumor). Nama itu juga sebenarnya berasal dari sejarah hidupnya alias perjumpaan pertama gue dengan si Tumer atau si Tumor ini. Pertama-tama, kita sepakati di post ini gue panggil Tumor aja ye..



Sebenernya inspirasi nama dia memang dari kata tumor beneran. Tanggal 3 Oktober 2023, terdengar suara anak kucing nangis-nangis di depan pagar rumah gue. Terus kakak gue penasaran, dia lihat tuh kucing dari kejauhan lalu bilang ke gue kalo ada kucing di depan pagar yg bulunya cantik dan nyuruh gue untuk mencoba melihat kucing itu. Gue jalan menuju pagar dan kucing itu mendekat ke pagar rumah gue. Gue belum bisa melihat kucing itu dengan jelas karena mata gue rabun dan lagi ga pake kacamata, btw kakak gue juga rabun dan saat itu kayaknya dia ga pake kacamata juga. Setelah gue raih kucing kecil itu dari balik pagar, barulah gue bisa melihat dengan jelas kalo dia punya penyakit kulit di kepalanya dan cukup menjijikkan. Kakak gue rada shock gitu wakakak, soalnya dia ngelihatnya tuh kucing emang kelihatan cantik tapi ternyata kulit kepalanya banyak borok. Dia yg tadinya excited pengen gendong dan ngelus sontak terdiam dan ga muji-muji tuh kucing lagi. 🙈


⚠️ SKIP AJA KALAU JIJIK


Gue yg berhati lembut ini (wkwkw) pun auto ga tega dan kasihan setelah memperhatikan kondisi anak kucing ini dengan saksama. Secara fisik dia cukup sehat, tapi ya itu dia punya penyakit kulit yg cukup parah di kepalanya. Ini merupakan kali pertama gue rescue kucing yg punya penyakit kulit, jadi gue sendiri juga ga begitu tau harus ngapain. Karena gue lihat tuh kucing garuk-garuk dan memang kondisi badannya kotor, gue mandikanlah dia lalu setelahnya gue kasih makan. Bermodalkan searching di google dan diagnosa gue sendiri, gue obatilah tuh kucing dengan minyak kelapa. Setiap habis mandi, gue semprot tuh minyak ke kepalanya. Oh ya, gue mandiin pake sabun yg mengandung asam salisilat.


Awal-awal perawatan. hmm disini masih jelek bgt lu, Tumor 💩


Dan beberapa minggu kemudian, Tumor menunjukkan banyak perbaikan. Boroknya kering dan mengelupas, wajahnya terlihat semakin sehat.

kiw kiw

Gue yg sama sekali awam tentu sangat senang dengan memulihnya kulit kepala si Tumor ini dengan usaha sendiri, jadinya gue ga perlu ke dokter hewan. Syukurlah tabungan moengilku bisa ikut selamat🥰wkwkw. Nah, karena dia udah menuju kesembuhan, sejak itu gue memutuskan untuk memberi dia nama. Karena kami bertemu dengan keadaan kepalanya banyak bisul atau tumor (sarkas doang ye ini hahaha) tapi ga mungkin kan gue kasih nama bisul/tumor langsung. Gue ubahlah kata tumor itu jadi Tomorrow dan disingkat Tomor maka jadilah namanya begitu tapi kalo diucapkan tetap Tumor juga sih‽ Jadi sama aja yakan wkwk. Lalu, biar dia ga terlalu malu juga dengan namanya, gue buat nama tambahan/opsionalnya yakni Tumero Uno (Berasal dari frasa: numero uno). Cantik kan namanya? 👻 Tapi ini nama dari gue. Sedangkan kakak gue juga ngasih nama lain, dia selalu manggil si Tumor ini Gutul. Jujur, gue ga suka banget sama nama itu dan ga pernah manggil dia dengan nama itu karena artinya jelek banget. Gutul dalam bahasa suku Karo artinya nakal/jahat. Gak banget kan? Iwhhh..

Btw, gue dan emak gue sering manggil si Tumor ini dengan sebutan Tumer sedangkan kakak dan bapak gue manggil dengan sebutan Gutul. Begitulah akhirnya Tumor tinggal bersama dengan kami. Tumor yang gue temukan saat masih berumur kurang lebih 2-3 bulan, tumbuh menjadi kucing dewasa. Dia melahirkan untuk pertama kalinya pada akhir Juli 2024, melahirkan 4 ekor anak dan satu persatu anak-anaknya mati. Jujur, sebagai induk kucing Tumor induk yg cukup aneh bagi gue. Dia hanya menyusukan anaknya dengan baik kurang dari 2 bulan dan gak lama setelah anak-anaknya mati, dia hamil lagi. Kucing-kucing betina yg dulu pernah kupelihara biasanya menyusukan anak-anaknya sampai minimal berumur 6 bulan atau lebih, setidaknya sampai anak-anaknya mampu mencari makan sendiri. Bahkan aku pernah punya kucing yg masih menyusukan anaknya yg sudah dewasa berumur lebih dari 1 tahun dengan badan yg sudah sama besarnya dengan induknya.

Begitulah ternyata pola asuh Tumor terhadap semua anaknya. Tumor melahirkan yg ke-2 pada akhir Desember 2024, lahir 6 anak kucing yg sehat-sehat; 5 jantan & 1 betina. Sayangnya, dalam usia masih 1 bulanan Tumor membawa anak-anaknya pergi dari rumah dan hanya tersisa 1 anak kucing betina yg entah bagaimana bisa pulang kembali ke rumah dengan sendirinya. Anak kucing itupun tidak dia susui dengan baik juga, kurang dari umur 2 bulan. Guelah yg jadi induk penggantinya dan harus terbiasa melakukan semua pekerjaan mengurus bayi kucing yg sangat melelahkan itu hmm. Bote namanya, dia bertahan hidup sampai berumur 8 bulan. Namun, Bote sekarang sudah di dunia lain karena jatuh sakit.

Tumor melahirkan lagi untuk yg ke-3 kalinya kemungkinan di akhir Juni atau awal Juli 2025 (gue ga tau persisnya soalnya gue nyimpen fotonya bukan saat dia melahirkan) dan tentu saja cuma disusui kurang dari 2 bulan—lagi-lagi anak-anaknya tak bertahan lama, mereka hanya hidup kurang dari 3 bulan.

Awal November 2025, lahir 4 anak Tumor sekaligus persalinannya yg ke-4. Kali ini anak-anaknya tampak lebih sehat dan gue optimis banget anak-anaknya bisa bertahan hidup lebih lama, tapi entah gimane anak-anaknya tiba-tiba aja menghilang bak ditelan bumi ga ada jejaknya. Jam 10 malam gue masih denger suara ngeongannya, eh gue cek 2 jam kemudian keempatnya sama sekali ga ada lagi di depan teras rumah gue. Padahal anak-anaknya sehat dan gendut-gendut semua, gue juga ngerasa Tumor kayaknya lebih care sama anak-anaknya di persalinannya yg kali ini. Entah apa yg saat itu terjadi¿ Hufft, sedih dah.. 😔

Sejak Januari 2026, Tumor jadi semakin liar. Dia yg biasanya keluar rumah tapi selalu ingat pulang ke rumah untuk tidur, lama kelamaan tidak pulang sama sekali berhari-hari dan hanya datang ke rumah kalau sudah sangat kelaparan dan tak menemukan makanan di luar. Dan setelah diberi makan dia langsung pergi begitu saja. Jika pintu ditutup di malam hari, maka dia akan menunggu di pintu sambil mengeong tanda ingin keluar. Hanya membuka sedikit pintu, maka dia langsung dengan secepat kilat kabur meninggalkan rumah. Begitulah hidupnya berbulan-bulan sampai di bulan Maret 2026 ini gue ngelihat perutnya sudah membuncit lagi, ASTAGA BUNTING TEROS NIH KUCING—gue mbatin teros dengan kelakuan si Tumor selama ini dan disinilah titik gue udah cukup muak sama kelakuannya yg semakin menyebalkan. Dia marah kalau dipegang, sangat ga suka digendong tapi kalau disogok makanan dia bisa mengaktifkan mode pura-pura baik. Setelah makan, auto kabur dan mode jahatnya keluar, gue sempat kena cakar waktu berusaha menggendong dia. Padahal dia yg sejak kecil manja dan sopan banget ke gue, suka digendong bahkan ga pernah berani nyakar gue tiba-tiba berubah 180⁰ jadi kucing yg seolah ga pernah kenal gue. Gue kesal banget. Kalo kakak gue ngelihat dia lewat di depan rumah atau ngasih tau kalau dia datang ke rumah, gue ga menghiraukan dan kaga mau gue kasih makan. Kalau ga dikasih makan, dia pasti akan langsung pergi dan besok-besoknya ga datang-datang lagi. Kadang kalo dia datang tiba-tiba ke rumah, supaya dia sadar, gue sengaja kasih makan kucing gue yg satunya di depan dia tapi piringnya gue tutupin supaya dia ga bisa ngambil makanan kucing gue yg satunya. Dia datang kalo butuh doang, benci guee!! Gue ngetik ini aja masih ingat dengan perasaan sebel gue saat itu 😡 

Dan sekarang akan gue ceritain puncak pengalaman traumatis gue mengenai si Tumor ini yg mungkin sulit gue lupakan. Di akhir April sampai awal Mei 2026 ini, dia jadi semakin rajin datang ke rumah—entah dikasih makan atau enggak—dia tetap datang dengan keadaan perut super besarnya. Dia juga ga langsung pergi walau ga ada makanan, seolah-olah kayak ngecek situasi atau caper atau apalah, naluri dia kayaknya mau melahirkan dan butuh tempat tinggal. Aku bisa merasakan itu makanya kalau dia datang aku ejekin, dan selalu aku bilang anak di dalam perutnya pasti ada 5 karena saking besarnya tuh perut. Emak gue juga selalu ketawa-ketawa sambil ngejekin si Tumor yg datang karena butuh bidan (alias gue🙉)

Betul aja, tanggal 6 Mei 2026 pagi-pagi dia udah datang ke rumah yg mana itu ga pernah terjadi sejak 5 bulan terakhir ini dan siangnya sekitar pukul 2 siang diapun melahirkan anak pertamanya. Yup, artinya ini persalinan Tumor ke-5! Walaupun sempat kesal melihat kelakuan menyebalkannya selama ini, tapi gue tetap gak tega, gue biarkan dia melahirkan di kotak yg sudah gue siapkan dan gue temani dan semangatin dia sampai anak keduanya lahir. Setelah itu gue meninggalkan dia dan tidur di kamar.

Sekitar pukul 5 sore, gue bangun dan mengecek kotak tempat dia melahirkan. Tapi, gue hanya melihat 4 ekor anak kucing tanpa dia disana. Gue bertanya ke emak gue, emak gue bilang dia di teras dan akhirnya gue menemukan si Tumor yg sedang duduk di depan teras hanya diam aja seolah sedang melamun. Gue heran, kenapa dia begitu??? Gue coba angkat badannya dan BETAPA SHOCK-NYA GUE⚠️ Banyak darah di daerah kemaluannya dan ada benjolan daging merah yg lumayan besar keluar dari sana. Gue bingung, panik, ga tau harus ngapain!!! Gue tanya ke emak gue si Tumor ini kenapa?!! Emak gue malah jauh lebih shock dari gue, emak gue kabur dan menjauh ogah ngelihat dia. Gue juga sebenarnya takut, tapi rasa kasihan gue meledak drastis sekaligus bingung harus ngapain. Setiap kucing gue sakit gue biasanya akan mencoba perlakuan yg bisa gue usahakan sendiri di rumah, tapi kalau kasus yg 1 ini cukup sangat mengerikan buat gue dan memang pertama kalinya gue tahu ini bisa terjadi sama kucing. Seumur hidup, gue emang pernah dengar istilah turun berok (turun peranakan) tapi ngelihat langsung contoh nyatanya ya baru pertama kali dan itupun gue baru tahu kalau kucing bisa turun berok juga. Btw istilah medis untuk kasus Tumor ini disebut prolaps uteri. Gue berusaha searching lagi di internet sambil mencoba mengelus-elus Tumor untuk menenangkannya. Diapun lebih tenang dan malah menyusukan anak-anaknya. Karena merasa darahnya terlalu banyak, aku memutuskan untuk membersihkan daerah pantatnya dengan air dan langsung mengeringkannya dengan hair dryer. Sambil dikeringkan, aku melihat Tumor semakin tenang sambil terus menyusui anak-anaknya. Di internet, aku lihat ada beberapa kasus seperti ini benjolan uterus itu bisa dimasukkan kembali, aku dengan sok jago berusaha mencoba memegang benjolan itu setelah sedikit membersihkan dengan cairan infus dan mengompres dengan es batu. Ya sudah ketebak, sudah pasti gagal dan aku hanya mencoba 1 kali dengan sangat pelan karena aku sendiri juga ngeri-ngeri sedap menyentuh benjolan alias uterusnya si Tumor itu.

Gue kira masalah hanya daging yg keluar itu doang, tapi gue perhatiin ada yg aneh dengan Tumor. Dia masih mengejan! Gue tambah khawatir, gue menduga masih ada anaknya yg belum bisa keluar. Setelah menyusui anaknya selama kurang lebih 1 jam, dia bangkit dan keluar dari kotaknya lalu pergi untuk minum dan keluar rumah. Gue biarin dia keluar rumah karena kukira dia mau pipis atau boker. Tapi ternyata dia tidak kembali sampai tanggal 7 siang hari dia akhirnya pulang dan duduk di teras rumah. Gue yg mengira dia sudah mati sangat bersyukur karena ternyata dia masih hidup. Soalnya sejak dia pergi dari rumah, gue udah wanti-wanti juga siapkan susu untuk anaknya dan betapa melelahkannya gue seharian itu 2 jam sekali ngasih anak-anaknya susu sampe begadang jam 2 dini hari.

Walaupun begitu, gue mencoba tetap bersyukur karena dia datang dan bisa menyusui anaknya lagi. Gue sempat menemukan beberapa kasus melalui medsos, ada orang yg bercerita kucingnya mengalami hal yg serupa dan benjolan itu bisa masuk kembali dengan sendirinya sehingga gue sempat berharap ada mujizat seperti itu terjadi pada Tumor juga. Tapi, itu tidak terjadi 😐 bahkan tidak mungkin terjadi. Gue sedih dan masih bingung harus apa. 1 harian gue mikirin Tumor, gue berpikir sebaiknya membawanya ke klinik dokter hewan. Tapi apalah daya, sore itu hujan turun deras dan rumah gue kalo hujan deras selalu kebanjiran.

Besoknya atau tanggal 8 gue mulai mencari informasi klinik dokter hewan, tapi karena ini kasus yg cukup berat dan gue tau tindakan yg dilakukan untuk Tumor sudah pasti operasi, gue jadi begitu banyak pikiran dan pertimbangan, ditambah sepertinya yg paling mengkhawatirkan kondisi Tumor di rumah hanyalah gue seorang yg merawatnya. Gue juga jadi stres sendiri. Seakan semua beban gue yg tanggung sendiri. Kemarinnya gue begadang ngurus anak Tumor. Besoknya sambil bersihin pantatnya, mengeringkan dia, melap kotoran-kotoran yg menempel di badannya, ngasih dia minum air dan susu bahkan membantu dia melahirkan anaknya yg ternyata masih belum keluar sejak tanggal 6 kemarin. Gue secara harfiah benar-benar jadi bidan sekaligus perawatnya. Setelah dia gue mandikan di bagian bawah tubuhnya yg udah kotor dan banyak belatung karena dia kemarinnya pergi keluar, gue benar-benar sedih dan mellow banget waktu ngelihat matanya yg kosong yg kemungkinan dia begitu karena menahan sakit. Disini pertahanan diri gue runtuh, gue sedih banget. Yg gue rasain saat itu seakan gue ngeliat dia sebagai anak perempuan gue yg sedang sakit karena melahirkan. Rada aneh ya?? Padahal gue sendiri belum pernah punya anak tapi bisa-bisanya gue merasa kayak gitu. Jadi, gue kasian sama dia bukan karena dia kucing yg pernah gue pelihara atau bonding karena gue suka kucing. Melainkan karena dia betina dan gue juga perempuan, kami punya jenis kelamin yg sama. Gue manusia dan kalo dipikir-pikir manusia juga masuk kingdom animalia—organnya yg sedang sakit yg dia punya, gue juga punya. Gue nangis di kamar mandi sambil membilas uterus yg keluar dari alat kelaminnya itu, sambil berdoa semoga gue membuat keputusan yg terbaik dan bisa membantu dia keluar dari rasa sakitnya.

Setelah selesai, gue keringin dia pake hairdryer. Entah karena hairdryer itu menghasilkan udara yg hangat dan merangsang dia atau kebetulan aja, dia mendadak mengejan lagi—yg kali ini lebih kuat dan seakan lebih bertenaga. Gue lihat ke arah lubang kelaminnya, terlihat ada yg keluar. Itu kepala anaknya yg sudah 2 hari tidak bisa dia keluarkan! Sambil menyemangati dia untuk mengejan, aku juga berusaha pelan-pelan menarik kepala anaknya mengikuti irama saat dia mengejan. Akhirnya berhasillah keluar anaknya dari sana tapi sudah dalam kondisi mati. Saat itu gue senang banget, gue kira hal yg paling kritis sudah terlalui. Gue bersihkan lagi badannya, lalu gue letakkan kembali bersama anak-anaknya. Dia menyusui lagi. Gue kubur anaknya dan gue terlalu berpikir positif bahwa sepertinya gue ga terlalu perlu lagi pergi ke dokter (tolol banget gue kan, maafkeun diriqu yg hina ini yak!) Tapi kesenangan itu ternyata hanyalah pemikiran bias gue semata, sampailah gue pada kenyataan yg sesungguhnya bahwa mengeluarkan mayat anaknya tadi tetap tidak menyelesaikan masalah. Gue terkejut banget ngelihat dia masih mengejan dan masih mengeluarkan cairan yg berbau tidak sedap dari alat kelaminnya. Yg paling membagongkan, kali ini benjolan yg tadinya hanya 1 kini bertambah menjadi 2! HIKS, GUE BENER-BENER MERASA SEPERTI SEDANG DIPERMAINKAN OLEH PIKIRAN BODOH GUE SENDIRI.

Sambil membantu dia mengejan, gue ikut lemas, saat itu gue tahu bahwa gue benar-benar ga bisa mengatasi ini sendirian. Lalu, keluar lagi gumpalan daging dari vaginanya. Awalnya gue kira itu janin ga berkembang tapi setelah diperhatikan itu lebih mirip plasenta yg tertinggal, mungkin itu plasenta dari anaknya yg mati di rahimnya tadi. Hujan turun deras lagi, rumah gue kebanjiran as always. 

Malamnya, gue lihat Tumor semakin lemas. Dia tidur doang bersama anak-anaknya dan ga keluar dari kotaknya, tapi cairan selalu keluar dari kelaminnya. Saat itu gue hanya bisa berbuat yg bisa gue perbuat, gue bersihin badannya, gue ganti alas tempat tidurnya dan gue letakin pembalut di bawah uterusnya yg keluar itu. Di hari itu gue 3 kali mandiin bagian bawah tubuhnya karena dia kotor banget kena cairan dari alat kelaminnya dan berbau tidak sedap. 

Besoknya–tanggal 9–setelah banyak pertimbangan, ketakutan dan keraguan, gue pergi ke klinik hewan. Jujur, awalnya gue takut dia mati kalo dioperasi karena beberapa pengalaman orang kucingnya mati setelah dioperasi. Tapi keputusan gue udah bulat untuk mengesampingkan resiko demi satu-satunya harapan dia bisa sembuh. Gue sampe ke klinik pukul 1 siang, Tumor diobservasi dokter dan akan disteril.


2 benjolannya yg lagi dibersihin ama dokter. Mukanya tegang, tapi dia cukup patuh dan diem aja seolah tau kalo mau diobatin. Hanya aja, waktu mau diinfus susah banget. Dia ditusukin jarum di kakinya 4 kali dan ga bisa-bisa juga.


Btw gue bawa dia ke klinik dengan kondisi gue sendiri belom makan dari pagi dan gue disuruh nunggu sampe jam 3 karena dokter yg mau operasi dokter yg lain. Tapi dokternya baru datang hampir jam 4 sore. Operasi dimulai jam 4 sore lebih dikit, setelahnya setengah jam kemudian gue dan temen gue pergi ke indoapril untuk beli makanan dan kembali menunggu. Di momen ini gue baru bisa makan karena seharian gue stres kepikiran nasib si Tumor.


Akhirnya operasi selesai jam 5.15 sore. Ini pertama kali gue melihat langsung di depan mata keadaan seekor hewan pascaoperasi, jadi gue ngerasa rada ngeri karena Tumor matanya terbuka tanpa berkedip dengan lidah melet. Dokterpun menjelaskan berbagai hal dan dari keterangan dokter sepertinya operasi berjalan dengan baik, dokternya sempat mengatakan kalau Tumor ini termasuk kucing yg punya tubuh yg kuat karena bisa dioperasi dengan keadaan anemia (disitu gue baru ingat kalau sejak melahirkan di tanggal 6 sampai dioperasi Tumor sama sekali tidak makan, hanya minum doang). Gue emang cukup sangat terlambat membawanya ke dokter, sori ya Tumor! 🙏 

Setelah menunggu sekitar 1 jam, Tumor perlahan sedikit demi sedikit sadar dari efek biusnya tapi masih belum bisa berkedip dan menarik lidahnya ke dalam mulutnya waktu gue bawa pulang dari klinik. Gue sampai di rumah sekitar jam 7 malam. Gue disuruh dokter untuk memastikan tubuhnya tetap hangat karena efek bius membuat tubuhnya merasa kedinginan. Setiap 1 jam gue buatin air hangat dan gue masukin ke wadah lalu gue letakin di tubuh Tumor. Mumpung dia belum sadar betul, gue lap sisa kotoran di badannya dengan air hangat dan gue keringin lagi pake hairdryer dengan suhu hangat. Gue pantau terus perkembangan kesadarannya, soalnya gue takut banget dia ga bisa bangun dari efek bius dan takut bekas luka jahitannya lepas. Sambil-sambil gue curi waktu untuk ngasih minum susu anak-anaknya yg udah berjam-jam ga minum sama sekali, soalnya orang rumah gue ga pernah ngurusin beginian, cuma gue emang yg terbiasa ngelakuin hal-hal kaya gini. Hadeuhh, ribet dah memang.. Tapi kalo bukan gue siapa lagi? Yasudahlah, mau gimana lagi.

Gue ga ingat jam berapa Tumor udah sadar total,  tapi di jam 1 pagi dini hari (tanggal 10) 1 anak Tumor mati. Langsung gue kubur dan setelahnya gue kasih si Tumor makan ikan karena dia udah sadar dan mulai cari-cari makanan. Di momen ini gue ngerasain 2 perasaan, senang sekaligus sedih. Senang karena Tumor udah membaik dan sedih karena anaknya mati. Gue pun tidur, dan bangun jam 6 pagi dan ngasih makan Tumor lagi. Per tgl 10 ini, 2 anak Tumor mati lagi. Sekarang tinggal tersisa 1 ekor. Hal yg ga disangka, waktu awal-awal pascaoperasi ASI Tumor kering, tapi mungkin karena 1 anaknya itu terus menstimulasi dengan ngisap puting induknya, ternyata ASI-nya jalan lagi. Gue seneng banget, itu artinya semakin besar harapan 1 ekor anaknya itu untuk hidup.

Yah itulah kisah dramatis si Tomorrow alias Tumor yg lumayan menguras emosi gue. Gue berharap setelah steril ini Tumor jahitannya cepat pulih, sehat dan panjang umur dan semoga kedepannya bisa jadi kucing rumahan yg berbudi pekerti, ga liar-liar lagi. Mudah-mudahan anaknya juga sehat dan dia mau terus nyusuin anaknya ga kayak yg sudah-sudah. Gue juga mau berterimakasih buat temen gue Nani yg udah mau nemenin gue dan meyakinkan gue untuk bawa Tumor untuk dioperasi.

Nih foto Tumor per 11 Mei 2026 bersama anak semata wayangnya sekarang:


Eh btw, karena deretan pengalaman ini, gue juga jadi berencana untuk pensiun melihara kucing, terutama kucing betina. Sumve, kena mental gue. Trauma asli. Gue kayaknya ga bakal mau lagi dah melihara kucing betina samsek. Sekarang di rumah gue tinggal 3 kucing; Tumor, Gosong dan anaknya Tumor. Gue akan rawat mereka tapi gamau dah gue nambah kucing. Takut gila gue. Udah ye, bye! 💨




No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...